MERENUNGI ARTI KEMATIAN DAN KEADAAN MANUSIA DI PADANG MAHSYAR















Judul Buku : MERENUNGI ARTI KEMATIAN DAN KEADAAN MANUSIA DI PADANG MAHSYAR
Penulis : H. Toha bin Abu Bakar Yahya
Penerbit : PT. KARYA TOHA 2005
Tebal : 209 halaman


Buku yang berjudul “MERENUNGI ARTI KEMATIAN DAN KEADAAN MANUSIA DI PADANG MAHSYAR” karangan H. Toha bin Abu Bakar Yahya ini sangat menarik untuk pembelajaran bagi kita semua dalam memahami arti kehidupan di dunia ini. Buku ini menceritakan tentang tahapan-tahapan dalam kematian yang begitu mencengangkan dan mengerikan jika kita pahami. Karena cepat atau lambat kematian akan segera menjemput kita maka janganlah kita tertipu oleh gemerlapnya kehidupan dunia yang serba mempesona ini, sehingga terlena dan melupakan akhirat yang sudah pasti kita akan menjalaninya.

Nabi saw. pernah menuturkan tentang rasa sakitnya kematian itu seperti apa, yaitu :
“Itu adalah sebanding dengan 300 bacokan pedang.”
Jadi jika kita pikirkan bagaimana kematian itu suatu saat akan menjemput kita, maka apa yang akan kita lakukan?

Telah diriwayatkan, bahwa jika ruh itu telah berpisah dari jasad, maka akan ada suara keras dari langit tiga kali : “Hai anak Adam  . . . apakah engkau telah meninggalkan dunia atau . . . dunia meninggalkanmu? Apakah engkau telah mengumpulkan dunia ataukah dunia telah mengumpulkanmu? Apakah engkau telah membunuh dunia ataukah dunia telah membunuhmu?”

Jika jenazah itu telah diletakkan di pemandian, maka akan ada suara suara keras dari langit yang berbunyi : “Wahai anak Adam, mana jasadmu yang kuat itu? Oh . . . alangkah lemahnya sekarang . . . mana lidahmu yang lantang itu? Oh . . . alangkah gagunya sekarang . . . mana kawan-kawanmu yang karib itu? Oh . . . alangkah sepinya sekarang . . .”

Jika jenazah itu telah dibungkus dengan kain kafan, maka akan ada suara keras dari langit yang berbunyi : “ Hai anak Adam, berbahagialah engkau, jika engkau disertai ridha Allah, dan celakalah engkau, jika engkau disertai murka Allah. Hai anak Adam, berbahagialah engkau . . . jika surga menjadi tempat tinggalmu, dan celakalah engkau jika neraka menjadi tempat tinggalmu.

Hai anak Adam, engkau telah berangkat untuk suatu perjalanan yang sangat jauh tanpa bekal dan telah meninggalkan rumahmu dan tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya. Kemudian engkau akan menempati rumah yang penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan.

Jika jenazah telah diusung diatas keranda, ada suara dari langit dengan kerasnya : “ Hai anak Adam, berbahagialah engkau jika amalmu baik, berbahagialah jika engkau adalah orang yang bertaubat dan berbahagialah jika engkau adalah orang yang taat kepada Allah SWT.

Dan jika jenazah telah diletakkan untuk dishalatkan, maka ada suara dari langit tiga kali : “ Hai anak Adam, engkau akan melihatnya secara nyata sekarang. Jika amalmu baik, maka engkau akan melihatnya baik, dan jika amalmu buruk, maka engkau akan melihatnya buruk.

Jika jenazah sudah di letakkan di tepi lubang kubur, maka ada suara dari langit tiga kali : “ Hai anak Adam, apakah engkau telah mencari harta seumur hidupmu untuk kebinasaan seperti ini? Apakah engkau telah mencari kekayaan untuk kemiskinan semacam ini? Apakah engkau telah menyia-nyiakan cahaya terang-benderang di dunia untuk suatu alam yang gelap gulita seperti ini?

Jika jenazah sudah diletakkan di liang lahat, maka ada suara tiga kali dari bumi : “ . . . Hai anak Adam, dahulu engkau berada dipunggungku tertawa ria, kini engkau berada di perutku menangis tersedu-sedu. Dahulu engkau berada di punggungku gembira ria, kini engkau di dalam perutku diliputi kesedihan yang tiada habis-habisnya. Dahulu engkau berada dipunggungku bercakap-cakap seenaknya, kini engkau berada di perutku dalam keadaan membisu.

Dan dialam kubur kitapun harus siap menghadapi malaikat yang membawa senjata yang besar dan sangat menyeramkan yang siap memukul kita kapan saja, tergantung dari amal perbuatan kita di dunia.
Berbahagialah kita yang masih di beri kesempatan untuk hidup di dunia ini, karena kita masih bisa memperbaiki  sikap kita agar tidak menuesal nantinya, karena sebenarnya para arwah minta di do’akan oleh anaknya dan keluarganya. Para arwah itu berkata : “wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya nikmat-nikmat yang ada pada kalian sekarang, dahulu berada pada kami, dan tempo hari kami tidak menginfakkan di jalan Allah, maka perhitungannya terbebankan kepada kami sedang manfaatnya untuk orang lain. Dan jika kalian tidak merubah sikap seperti kami, maka kalian akan kembali ke akhirat dengan penuh kerugian dan penyesalan.”

Setelah itu manusia hanya menunggu sampai datangnya hari kiamat untuk di bangkitkan kembali dalam bermacam-macam bentuk sesuai amal ibadah mereka masing-masing. Lalu mereka di kumpulkan di suatu tempat yang sangat luas yang di sebut Padang Mahsyar. Disana mereka menunggu untuk melakukan penimbangan amal perbuatan mereka, karena dari amal itulah yang menentukan akan ke surga atau neraka kah kita kelak.

Itulah sedikit ringkasan dari perjalana kita nanti menuju alam akhirat, semoga secuil artikel ini dapat membantu kita dalam memandang dunia yang penuh dengan fatamorgana ini. Wassalamu’alaikum wr. wb.    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar